10 April 2011

Ada Mimpi di BTP Blok J…

Ku inkubasi mimpi-mimpi ini. Arghhhh….!!! Aku pusing…otakku pusing, mungkin seperti gasing yang tak henti berputar. Mengejar mimpi menjadi perawat membuatku kepayahan. Bagaimana mungkin, hanya demi menjadi “suster”, aku rela membiarkan kulit ini lembab di tahanan suci ini?

BTP blok J, tempat yang baru empat hari aku tinggali. Rumah ini minimalis, asal kau tahu saja kawan, rumah-rumah tipe minimalis di kota adalah tidak lebih dari rumah kecil dengan luas pas-pasan. Keadaannya lembab lantaran jendela-jendela hanya dijadikan pemanis, tak pernah dibuka!

Rumah tahanan suci, aku menyebut rumah ini sebagai rumah tahan suci, lantaran aku, wanita muda yang oleh teman sebayaku sering memanggilku “Iffah”, hampir tidak pernah meninggalkannya, kecuali untuk masalah-masalah kampus atau masalah-masalah lain yang minta segera diselesaikan.

Sesekali menghela nafas panjang. Kuhirup lagi, lalu ku hembuskan. Mimpi ini memaksaku menggoda masalah yang terbang dan hinggap di dinding-dinding tembok. Pagi ini bahkan aku harus membiarkan dapur tanpa asap, membiarkan piring-piring porselen putih peninggalan tuan rumah tetap putih, tak ada bekas nasi. Alasannya sangat klasik; BERHEMAT!!!

Tapi setidaknya aku masih bisa bertahan, mimpi menjadi perawat ini adalah episentrum energy kedua setelah percaya kepada takdir Allah, yang membuatku mampu bertahan. Untukkukah mimpi ini???

Bukan!!! Mimpi ini bukan untukku, tapi mimpi ini milikku dan akan segera kukembalikan pada wanita tua di desa nun di seberang lautan sana. Mimpi ini untuk ibuku, yang rindu melihatku mengalungkan stethoscope di leher lalu ku dengar degup jantungnya.

***
Hujan masih rintik-rintik romantis. Aku berjalan pelan menuju kamar mandi. Dindingnya ku tahu tak indah dipandang lagi, atap-atap sudah berwarna cokelat pudar. Di tiap titik sambungan tripleks, tetesan-tetesan hujan berebut tumpah di lantai-lantainya yang basah. Untuk apa aku ke tempat ini? Ah…aku lupa, pagi ini aku harus kuliah. Jam 8 pagi katanya ada dosen yang mau memberikan materi penting. Tapi bukankah sekarang hujan? Masih hujan. Tidak…! Hari ini harus kuliah! Ku bawa saja cadangan kaos kaki jika nanti kakiku kebasahan.

Usai menyegarkan badan, aku bersiap-siap. Angkutan umum beroda empat itu ku kira akan berlalu, setelah beberapa menit berhenti tepat di depan penantian penumpang. Ternyata prediksiku melenceng jauh beberapa derajat. Bahkan Tuan Sopir merayuku dengan membunyikan klakson “pip-pip” mobilnya, menembus rintik-rintik hujan ini. Ujung jilbabku basah, tapi tak kupedulikan. Ku berjalan sambil sesekali melompat-lompat kecil menghindari lubang-lubang tanah yang menganga dan becek. Sekali lagi, Tuan Supir memencet tombol klaksonnya, tapi tak ku jawab, aku melambai-lambaikan tangan agar ia cepat berlalu, akan ku tunggu saja angkutan berikutnya. Alasan tidak mau menaiki mobil Tuan Supir ini sangat logis, biasanya mereka yang menunggumu dengan manis di depan pemberhentian dengan durasi yang cukup lama, akan melakukan hal yang serupa tatkala kau telah duduk manis di dalamnya, dan kau akan kebosanan menunggu penumpang-penumpang lain, menunggu hingga derai-derai tetesan keringat terjun di tebing-tebing alismu lantaran gerah berdesakan meski masih pagi.

Namun Tuan Sopir lebih kuat merayu ternyata, diklakson-nya lagi mobil tipe Carry itu. Kembali tak ku sahut sebab jarak antara aku dan mobil Tuan Sopir masih beberapa meter lagi, ia tetap ngotot. Beberapa menit menunggu perjalananku usai ternyata tak membuatnya menyerah. Baiklah,,,aku akan menumpangi mobilmu Tuan Sopir!
Mobil ini melaju, menerobos hujan dan tanah-tanah yang berebut tempat dengan aspal. Tiba-tiba mobil ini sekonyong-konyong berhenti. Ssssssrrrrttt…..(ah…aku tak pandai meniru suara-suara makhluk lain selain manusia). Tak kutanya sebab ku tahu, dia, Sang sopir ngotot ini menunggu muatan lagi (benar
kan kataku?). Huftthhhh….aku bosan dengan Tuan Sopir ini, ia seperti superboy saja, pantang menyerah sebelum calon-calon penumpangnya mendekat ke arah mobil lalu dengan santai melempar senyum puas bila mobil betul-betul sesak. Beberapa menit berlalu. Ku lirik jam di ponselku, seperempat jam lagi tepat pukul 08.00. Aku mulai gusar.
Penumpang-penumpang terhormat yang di tunggu sejak tadi menaiki mobil. Lalu senyum berbisa itu tersungging dari wajahnya setelah memaksaku dan penumpang lain yang lebih dulu menumpangi mobil ini menunggu dan menghabiskan menit-menit penting kami.

Mobil ini kembali melaju. Tepat pukul 08.00 aku tiba. Aku sebenarnya baru menginjakkan kaki ke tanah lorong kampus. Aku masih membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke sana. Aku mengomel dalam hatiku, takut telat dan tak diizinkan masuk oleh dosen lebih tepatnya. Mula-mula jalanku cepat. Tapi beberapa meter sebelum sampai di gerbang istana milik kaum intelek itu, aku memperlambat irama jalanku. Beberapa sosok yang kulihat di depan sana adalah teman-teman kelasku. Arah jalan mereka jelas menjauhi alias keluar dari kampus. Dan setelah mereka tersenyum simpul, sedikit garang, ditambah kebosanan juga ngantuk, atau senyum-senyum lain yang tak mampu kedefinisikan tersungging, hmm.. tahulah aku, bahwa perkuliahan di pagi hari yang cerah ceria menggemaskan ini, di batalkan!
Oh…
layu kuyu kubalikkan badanku. Setelah berhujan-hujan dan adu urat kemarahan dengan sang Tuan Sopir hanya demi menghadiri perkuliahan yang ternyata dibatalkan karena dosennya sibuk.

Aku kembali memutar otakku. Mulai memasuki dunia utopia yang hanya aku yang tahu. Mulai bersolulokui dengan bayanganku yang berjalan menemaniku “betapa aku lelah mengejar mimpiku”.

Setelah beberapa menit, mungkin 30-an menit, hujan reda, lalu kembali rintik-rintik lagi. Hujan romantis ini mengingatkanku pada Tuan Sopir pagi tadi. Bisakah aku belajar darinya? Sebab aku masih ingin bertahan dengan mimpiku. Mimpi yang akan ku kembalikan pada wanita tua di seberang lautan sana. Ia melihatku dengan alat yang digunakan untuk mendengar denyut jantungnya, yang biasa dikalungkan di leher para dokter atau perawat saat memeriksa pasien...

Aku ingin bertahan selama masih ada jalan menuju mimpi-mimpi itu. Sebab aku ingin merdeka dengan mimpiku tanpa harus banyak mengeluh!

Makassar. 3 April 2011

Emy Gufarni

Profile:

Emy Gufarni.. adalah mahasiswi Semester VIII S1 Keperawatan di STIKES Nani Hasanuddin Makassar, Asal daerah Nusa Tenggara Barat. Aktif sebagai aktivis Dakwah di kampusnya tersebut. Dikalangan Civitas Akademika ia dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dengan nilai tertinggi dikelasnya. Semoga semagat juangnya belajar di negeri rantau memberi motivasi untuk kita semua. Amin...

*Notes:

tulisan ini pemenang 1 lomba cerpen BEM STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2011

07 April 2011

Mengurai Trend Jahiliah Abad 21 (Menikah VS Zinah)

Siapakah itu ang sanggup kendalikan hawa nafsu

Seperti kuda liar yang dikekang temali kuat?

Jangan kau berangan dengan maksiat nafsu dikalahkan

Maksiat itu makanan yang bikin nafsu buas dan kejam

(Al-Bushiri)

Puji syukur yang tiada terkira kepada Allah swt yang telah mengatur kisah hidup kita sedemikian rupa.. banyak hal yang tak terduga, tak disangka jauh melampaui pengetahuan kita tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup kita. Yah kita memang hanya bisa merencanakan.. tidak bisa menentukan hasil, karena Allah swt yang paling berhak dan berkuasa untuk menetapkan apa yang menjadi kenyataan karena Dialah yang Maha tahu sedang kita tidak mengetahui, Dialah yang Maha Kuasa sedang kita tidak berkuasa, dan Dialah yang Maha mengetahui perkara yang Ghaib (Takdir).

Hari Ahad 13 Februari 2011 saya harus mewakili Ketua KAMMDA Makassar untuk Membuka Acara Pelantikan sekaligus melantik pengurus baru Service Social Center (SSC) KAMMI Daerah Makasar. Malam hari sebelum hari “H” saya mempersiapkan beberapa draft pelantikan, malam itu saya sudah melukis Rencana saya besok Ahad InsyaAllah pagi pukul 09.00 saya akan berangkat ke Aula Diknas Prop. Sulsel untuk membuka acara dan melantik salah satu Lembaga Semi Otonom (LSO) KAMMDA Makassar, setelah itu, saya akan pulang kerumah untuk menyelesaikan pekerjaan Akademik, Organisasi, dan PR.. lainnya.. itulah rencana awal saya untuk hari ahad tgl 13/02/2011.

Pada saat hari itu tiba, sayapun melantik pengurus SSC KAMMDA Makassar, ternyata tanpa ku duga seorang yang lama tak kulihat Bapak Rusdi Layong, ST (Mantan Ketum KAMMI Daerah Sul-Sel) datang menghadiri acara pelantikan tersebut… sebenarnya beliau tidak bermaksud mengahdiri acara, hanya saja kebetulan mampir dan melihat sejenak kegiatan pelantikan yang dibuat oleh SSC. Setelah pelantikan usai, saya menghampiri bapak Rusdi, seperti biasa senyum khasnya tiap menyambut ikhwa dan kami pun berkomunikasi yang pada akhirnya beliau mengajak saya jalan-jalan untuk menemaninya menuju beberapa tempat…, nah! Ikhwa pembaca sekalian disinilah titik awal dimana Allah swt merubah rencana awal saya tentang aktivitas yang telah saya rencanakan untuk hari ahad, diamana Allah swt memasukkan Rencana-Nya untuk menetapkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi saya di hari itu.

Silaturahim kerumah ust. Surya Darma, Lc

Hujan deras waktu itu tidak menyurutkan langkah kami untuk berkunjung kerumah salah seorang tokoh gerakan dakwah sulsel (bapak Surya Dharma, Lc), dengan berjas hujan dan sebuah motor kami melaju kerumah beliau di bilangan tamalanrea tepatnya pada kompleks perumahan dosen Unhas. Setibanya kami disana kami disambut dengan hangat oleh Ust. Surya, beliau menyuguhkan makanan ringan yang bisa disantap bersama dan kamipun mulai berkomunikasi. Awal pembicaraan kami berdiskusi tentang bisnis,^_^ yah bisnis! Agak rumit untuk menjelaskan kenapa Alumni Lc, ST, & S.Kep berbicara soal bisnis? Xixixi.. alasannya sederhana Ust.surya mengangkat hadist Rasulullah mengenai 10 pintu rejeki bahwa 1 pintu itu ada di pengabdian terhadap pemerintahan, sedangkan 9 lebihnya ada pada perdagangan. Ustat surya melanjutkan bahwa yang 1 itu saat ini menjadi rebutan banyak orang sehingga banyak orang yang pengangguran akibat menggantungkan harapannya pada pintu yang sempit (PNS), lalu melupakan 9 pintu lainnya. Akhirnya beliau menutup bahwa menjadi penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana membuka 9 pintu ini, itulah mengapa kita harus mendiskusikan soal ini ^_^ Mantap!

Pembicaran kemudian berlanjut pada persoalan generasi muda! Ust. Surya mengatakan bahawa belum lama ini ia telahpun menikahkan anak laki-lakinya yang masih muda (18 Th), dengan seorang wanita yang diinginkan oleh anak tersebut. Alasan ust. Surya menikahkan dini anaknya adalah mengenai betapa dahsyatnya ujian yang harus dihadapi generasi muda hari ini terkait pergaulan bebas, ia khawatir jikalau sang anak juga terjerumus pada keluguan muda-mudi hari ini yang mengorbankan kesuciannya dengan alasan coba-coba. Ust surya melanjutkan, coba liat saat ini betapa banyaknya anak-anak kita yang hamil diluar nikah, bahkan sejak SMA perilaku ini sudah menggejala! Seharusnya kita sebagai muharrik dakwah, yang tahu betul mengenai persoalan kesucian dalam agama ini (Islam) tidak menutup mata dan hanya menerima perubahan zaman dengan berkata jangan cepat menikah sebelum mapaN! Kalimat yang sangat indah tapi keliru! Bukankah Rasulullah saw menganjurkan untuk menyegerakan menikah karena itu lebih menjaga pandangan dan memelihara kemaluan! Dan jangan karena alasan takut miskin kemudian kita tidak ingin menikah karena pada Allah swt lah kunci-kunci perbendaharaan langit dan bumi sungguh Dia Maha Kaya Maha Terpuji. Itulah mengapa ust. Surya menikahkan anakanya segera di usia mudanya, sambil mengenang ust surya bilang saat ingin melamar, anak saya bilang Abi… say ingin menikah abi.. saya sudah tidak tahan! ^_^ saya dan bapak rusdi waktu itu tersenyum sekaligus bangga melihat keberanian sang anak muda yang ingin menyambung hubungan kasih sayang, menghalalkan perasaannya dan menjaga kesucian dirinya. Saat kami silaturahim anak tersebut telah menikah… barakallahu fik.. ya akhi.. barakallah.. barakallah…

Setelah selesai berdiskusi, adzan duhur berkumandang menandakann masuknya waktu shalat. kamipun mohon pamit, Usai shalat tepatnya pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah temapat yang lagi heboh dikunjungi anak-anak muda.. ^_^ tapi kami bukan ingin hura-hura silahkan simak kisah selanjutnya…

Jalan-Jalan di Mall TRANS STUDIO

Awalnya saya heran kenapa kita harus jalan-jalan kesana… ternyata ada event tahunan Bank Muamalat yang kebetulan diadakan di tempat tersebut. Karena bapak rusdi merupakan nasabah bank Muamalat, maka beliau dapat undangan untuk menghadirinya. Saat dalam perjalanan menuju Trans Studio saya sulit membayangkan bagai mana modelnya soalnya sebelum itu saya belum pernah kesana…, saat masuk dilahan parkiran, subehanallah ternyata suasana kemajuan Materi betul-betul terasa sejak diawal gerbang masuknya.. saya hampir tidak habis fikir, tempat yang dulunya merupakan rawa-rawa di pinggiran laut ditimbun lalu dibangun sebuah bangunan yang megah, benar-benar panorama Materi yang menakjubkan mata.

Rasa takjub itu tiba-tiba memudar saat kaki kami melangkah masuk kedalam Mall Trans Studio, aneka suguhan peradaban hedon berlalu lalang dihadapan kami bahkan pada benda-benda mati yang terpajang menghiasi seluruh ruang mall tersebut. Seluruh bentuk kehancuran yang pernah dikatan Rasulullah benar-benar tampak disana… busana wanita yang lebih layak disebut tak berbusana pun sangat kontras terlihat. Hmm *_* bingung ku mengalihkan pandangan, lihat kebawah saya bisa tabrak orang.. atau paling banter jatuh ke sungai buatan yang ada di mall tersebut… -_- melihat kekiri dan kanan sama saja kalau melihat kedepan… semua aurat!, kuteguhkan hatiku untuk menggunakan benteng hijab hati… walau berat, hati diseret-seret sambil mengingat sabda Rasulullah bahwa “tidak ada fitnah yang lebih besar dari pada wanita..” sebuah kenyataan yang harus diakui sekaligus sebuah tantangan untuk menguatkan hati menghadapinya! Satu fikiranku saat itu adalah berusaha membawa fikiran ku keluar dari suasana yang terkondisikan di mall tersebut, mengingat wajah-wajah ikhwa, mengenang perjuangan bersama mereka…, lalu kontraslah bahwa apa yang sedang kami saksikan saat itu adalah wajah baru Jahiliah abad modern!, dan ini juga semakin meneguhkan kesimpulanku tentang apa yang disebutkan oleh ust.surya mengenai alasan menikahkan anaknya di usia dini.

Namun uniknya Bapak rusdi yang bersama saya saat itu tampak biasa aja (santai), beliau tidak terlalu terbebani dengan pemandangan hedonism dihadapannya, itu karena dia mengingat istrinya, saya teringat sabda Rasulullah bahwa “ketika kalian melihat wanita yang menarik perhatian kalian, maka segera pulang ke rumah dan temui istri kalian, karena apa yang ada pada wanita itu juga ada pada istri kalian..” ^_^ hmm begitulah bahwa fitnah wanita akan lebih mudah diatasi oleh orang sudah menikah…

Setelah mengunjungi stand Bank Muamalat kamipun keluar dari mall tersebut, akhirnya bisa keluar juga…hehehe. Dan lucunya kami keluar lewat pintu samping ini mungkin takdir Allah supaya mata kami bisa di scan dengan pemandangan alam laut diluar mall, Maha berbarokah Allah pencipta yang paling baik… Setelah dari mall kami menuju tempat penjualan mainan anak-anak, Bapak rusdi ingin membeli hadiah untuk anaknya yang baru belajar berjalan… bapak rusdi ingin membelikan anaknya mainan yang edukatif dan melatih fisik agar anaknya bisa belajar berjalan. Usai membeli, kamipun keluar dan menuju tempat penjualan tiket transportasi daerah, soalnya hari itu juga bapak rusdi harus pulang ke soroako (sebuah daerah di sul-sel). Dan akhirnya kamipun harus berpisah disebuah mesjid setelah shalat Ashar… Barakallahufik bapak Rusdi. Setelah itu saya singgah dirumah seorang saudara untuk melepas penat setelah aktivitas seharian.

Contoh nyata dari Sauadara !

Saat sampai di rumah seorang saudara, saudara saya itu bercerita tentang telfon yang baru saja diterima dari ayahnya mengenai sepupunya. Sepupunya adalah seorang wanita di sebuah desa di Sul-sel, bunga desa adalah kata yang tepat untuk menggabarkan posisinya di tengah masyarakat desanya saat itu… Allah swt telah menciptkannya dengan fisik yang sempurna… namun karena lingkungan pergaulannya yang buruk, budaya pacaran sejak smp suadah sering ia lakoni membuatnya begitu biasa dengan perilaku yang kebablasan. Akhirnya saat Mahasiswi kisah pacarannya harus berakhir dengan kehamilan di luar nikah sehingga terpaksa menempuh MBA (Married by Accident), dan parahnya sang Pria Accident itu langsung meninggalkannya setelah mereka menikah, soalnya sang pria itu juga memiliki istri yang lain dan tidak mengijinkannya untuk bersama dengannya. Lalu tinggallah sang bunga desa ini dengan kehamilannya… dengan masa depan yang agak kelam, wallahu ta’ala ‘alam apa yang akan terjadi pada dirinya kemudian. Nauzubillahi minzalikh.. summa Nauzubillah..

Saudaraku… telah usai serangkaian kisah yang saya alami di hari Ahad 13 Februari 2011, sebuah kisah yang menampilkan Etalase peristiwa yang saling terhubung satu sama lain. Kata kunci hikmah dari perjalanan ini adalah memperlihatkan kepada kita betapa Dunia hari ini begitu mengandung Fitnah yang besar. Hanya sedikit dari banyaknya “PEMUDA” & “PEMUDI” hari ini yang bisa selamat dari FITNAH hubungan Tanpa status! Alias Pacaran, Alias “Mendekati Zinah.” Fitnah wanita.. yah Fitnah Wanita… mulai di asramah, jalanan, kampus, mall dan semua tempat yang disana ada wanita pasti ada fitnahnya begitu pula para pria yang lugu terhadap dosa yang selalu menyertainya… Ya Rabb kuatakan kami menapaki jalan yang asing ini… wallahu ta’ala ‘alam…

By Andi Yakub [Refleksi trend Jahiliyah abad 21]

03 Januari 2011

KETIKA PAHLAWAN HARUS MEMILIH JALAN CINTA NYA

Suatu saat sebuah momentum besar dalam sejarah kehidupan anak cucu adam, mereka saling kenal mengenal bagaikan sahabat, saling melindungi satu sama lain, saling melengkapi kekurangan, bahkan rela mengorbankan harta dan jiwanya demi saudaranya. Akan tetapi kita juga tidak dapat memungkiri bahwa dalam waktu lain mereka saling menjauh, bahkan saling memerangi satu sama lain. Fenomena demikian lama kelamaan menjadi budaya yang mau tidak mau pasti akan dialami oleh siapa saja, dimana saja, dan dalam keadaan apun. Perang!!! Ya… perang! Kalimat ini lama kelamaan menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar manusia yang dilahirkan dalam keadaan aman sentausa, berbeda dengan saudara-saudara kita yang dilahirkan dalam suasana dimana semuanya menjadi begitu tak berharga, sebuah suasana dimana kita tidak melihat satupun hal yang dapat bertahan lama…sebuah keadaan dimana kita tidak mapu berbuat banyak untuk melindungi orang-orang yang kita cintai bahkan walau hanya sekedar melindungi diri kita sendiri. Orang-orang yang demikian inilah yang memandang kehidupan sebagai sebuah potongan zaman yang menuntut dirinya untuk melakukan tindakan benar.

Dialah seorang pahlawan, ya seorang yang tidak memiliki niat untuk menjadi terkenal namun takdir yang telah memilihnya. Seorang yang dilahirkan oleh sejarah melalui rahim ibu peradaban. Dahulu waktu ia kecil dan mungil, ia selalu berteriak manja pada sang ibu untuk minta di beri Asi, selau berlari-lari kecil dengan tawa bahagia ketika sang ayah pulang dari aktifitas mencari nafkah. Ya… memang jika dilihat sepintas lalu, maka tidak ada perbedaan yang sangat eksplisit antara seorang pahlawan dengan seorang awam(biasa) ataupun seorang pecundang saat mereka masih kecil. Perbedaan mereka akan tampak jelas ketika mereka menghadapi pilihan-pillihan hidup yang kelak akan mewarnai seluruh aktivitas mereka dalam menikmati hidup dan kehidupan yang telah diciptakan oleh Allah Azza Wajallah.

Setiap kali seorang pahlawan harus memilih mengenai kebahagian abadi atau sekedar kebahagiaan yang semu. Definisi itu ia rangkumkan dalam sebuah frame berfikir yang ia sandarkan kepada-Nya, terkadang ia keliru namun kekeliruan bukanlah hal yang membuat ia menjadi lugu untuk menerima kesalahan sebagai sebuah kebenaran. Ia meyakini bahwa seluruh alam semesta yang di lihat dan dirasakan bahkan dirinya sendiri merupakan bagian dari kesatuan system yang sangat harmonis dan seimbang. Keharmonisan dan keseimbangan inilah yang telah mengajarkan kepada dirinya bahwa segala seuatunya tidak ada dengan sendirinya, melainkan ada sesuatu yang telah menciptakannya. Pencipta…ya “pencipta” dari sang pencipta inilah ia belajar tantang dari mana ia berasal, apa yang menjadi kelebihannya, apa yang menjadi tugas hidupnya, dan apa yang akan kelak ia dapatkan setelah usai tugas-tugas itu, serta resiko apa yang kelak akan ia terima jika ia mengabaikan sang “Pencipta.”

Akhirnya sang pahlawanpun telah tumbuh dewasa. Dan ia bersiap untuk memilih jalan yang kelak akan merubah segalanya dalam hidupnya. Ketika negerinya tengah terancam oleh serangan sebuah imperium jahiliah yang bringas dan dzholim dan telah menjajah negerinya sejak ia kecil. Kumandang perang pun telah berkobar! akhirnya sang pahlawan pun pergi menemui ibunya untuk meminta izin kiranya ibunya memberiakan sebuah jawaban yang akan mendukung keputusannya. Saat itu ibunya hanya tersenyum, mungkin ia tidak habis fikir bahwa si mungil lucu dan manja itu kini berdiri tegap dihadapannya, ia telah semakin dewasa dan tampan. Sang ibupun berkata…

“anakku kau bisa tidak ikut berperang, dengan begitu kelak engkau akan punya istri cantik dan anak yang banyak, dan rumah serta perkebunan yang indah, lalu namamu tertulis indah didalam hati anak-anakmu, namun ketahuilah anakku… bahwa ketika generasi selanjutnya dari anakmu melahirkan cucumu, maka namamupun lambat laun akan segera lenyap dan engkaupun pergi tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Akan tetapi anakku jika engkau pergi berperang melawan imperium yang zhalim itu, maka kelak namamu akan terukir indah didalam sejarah dan abadi sepanjang masa…”, setelah itu sang ibu pun memegang kedua pipi sang anak, ibupun kembali melanjutkan perkataannya dengan mata yang berkac-kaca “anakku…jika engkau pergi, maka engaku mungkin tidak akan kembali…” dan sang ibu memeluk anaknya. Sang pahlawanpun akhirnya lahir dalam sebuah pilihan hidup yang benar-benar merubah arah hidupnya. Dan ia bahagia bahwa ternyata kasih sayang ibunya dahulu telah mendidik dirinya akan keberanian dalam membela kebenaran, walaupun sebenarnya tertulis dalam sejarah bukanlah ambisi yan ia inginkan, akan tetapi yang ia inginkan adalah agar kelak di akhirat nanti ia dimasukkan dalam kafilah syuhada….dalam barisan yang terhormat… itulah jalan cinta seorang pahawan! Allahuakhbar.

By Andi Yakub Abdullah [refleksi pilihan cinta ku]

23 Desember 2010

ETALASE KEBANGKITAN PERADABAN ISLAM

Geliat aktivis Dakwah baik dikampus, sampai gerakan dakwah nasional dan internasional semakin meyakinkan kita dengan satu hal. Bahwa kebangkitan adalah keniscayaan. Fitrah Islam sejak di sempurnakan oleh Allah adalah kemenangan. Bahwa Allah swt telahpun berjanji kelak akan menjadikan kaum muslimin sebagai sang pemimpin peradaban. Berdiri gagah diatas puing-puing peradaban kejahiliaan. Tak sedikitpun ada raut kesombongan dalam kemenagan itu. Karena mereka meyakini bahwa kemenangan adalah pemberian Allah Azza Wajallah… sang pemilik segala sesuatu. Allah swt berfirman mengenai kado peradaban itu di dalam Al-Qur’an

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55)

Alam semesta menjadi saksi bisu tentang sebuah kerinduan yang terpendam sejak berabad-abad, sebuah mimpi yang terwariskan dari generasi ke generasi melalui ikatan mata rantai kenabian. Bahwa keberkahan dari langit dan bumi hanya akan terjadi ketika penduduk suatu Negeri! Beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Setiap saat ketika keheningan malam menyelimuti bumi terlihat alam semesta yang tetap hidup dan bertasbih kepad Tuhan-nya… tiada pernah letih dan mengeluh dalam pendaman rindu “adakah kiranya generasi itu kembali,” ya! Generasi yang dalam kurun waktu dahulu pernah memakmurkan bumi dengan cahaya keimanan yang membentang dari cordoba (sepanyol, Portugal) sampai ke asia tenggara (Indonesia), mewarnai tiga benua Eropa, Asia, dan Afrika. Saat itu adalah pertama kalinya konsepsi Islam merealitas ke dunia. Sebuah idealisme kehidupan yang benar-benar hidup di belantara peradaban. Yang mebuat Imperium Romawi dan Persia menggulung tikar teritorialnya dari muka bumi.

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Fath: 21)

Suatu tanggung jawab sejarah bagi generasi hari ini untuk kembali membebaskan daerah-daerah penakhlukkan, lalu melanjutkan pembebasan negeri-negeri lain yang belum tersentuh. Janji Allah swt dalam surat Al-fath bukanlah sebuah utophia melainkan sebuah panggilan tegas dari Rabb bahwa pemuda muslim sangat sia-sia hidupnya jika mereka mengabaikan panggilan kemuliaan ini sebagai mana panggilan kemuliaan yang pernah ditolak mentah-mentah oleh bani Israel kepada Musa as saat Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mewarisi palestina, sebagaimana disitir dalam selentingan ayat Al-Qur’an:

Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja." (QS. Al-Maidah: 24)

Berbeda sekali dengan seorang Muhammad Al-Fatih yang saat mendengar sabda Rasulullah saw tentang pembebasan konstantinopel

Konstantinopel akan ditaklukkan ditangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah poemimpin yang membebaskannya & sebaik baik tentara adalah tentaranya (HR. Ahmad)

Yang langsung disambut olehnya dengan belajar ilmu keislaman dan kemiliteran, dan diikuti dengan seringnya ia berdoa kepada Allah dengan penuh harapan dan usaha “Ya Allah berikan aku kesempatan, jika bukan menjadi pemimpinnya maka jadikanlah aku sebagai perajuritnya yang setia” Allhuakhbar dikisahkan saat penakhlukkan Muhammad Al-Fatih bersama prajuritnya mengangkat kapal-kapal perang mereka yang berisi amunisi-amunisi untuk melintasi sebuah gunung besar dalam waktu 1 malam, hal ini dikarenakan sulitnya menembus blockade lautan Konstantin yang di halangi oleh rantai besar. Hingga akhirnya mereka menyerang dari dua arah yaitu laut dan darat sampai kemudian konstantinpun di takhlukkan.

Pemuda hari ini harus belajar banyak mengenai sejarah agar tidak menjadi generasi yang lupa, yah generasi yang melupakan tanggung jawab sejarah pembebasan manusia dari kejahiliaan menuju cahaya yang terang (Islam). Berkaca pada Rasulullah saw dan sahabat saat mereka membebaskan madinah dengan mendirikan daulah islamiyah, menerapkan syariatnya, dan melakukan pembebasan-pembebasan. Rasulullah saw dalam 10 tahun pertama kenabian, beliau melakukan persatuan nilai-nilai akidah dan ibadah dalam jiwa-jiwa individu muslim sehingga mereka siap untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Lalu kemudian pada 10 tahun kedua Rasulullah saw membangun daulah islamiyah dengan satu persatu perangkat-perangkat kenegaraan sehingga memberikan perlindungan bagi tumbuh besarnya masyarakat islam tanpa intervensi kejahiliaan. Baru setelah itu melakukan ekspansi-ekspansi dakwah mulai dari penakhlukkan mekkah, lalu Persia, Romawi hingga menguasai 3 benua [asia, eropa, afrika].

Belajar dari siroh nabawi, Konsep perubahan dalam islam harus melalui tiga tahapan besar:

  1. Tahapan Instalasi syahadatain dalam system kemanusiaan (Individu, keluarga, masyarakat) menuju masyarakat Robbani. Hasilnya akan melahirkan sebuah komunitas baru yang benar-benar berbeda dengan komunitas disekelilingnya, letak perbedaan itu adalah ideologi yang menjadi perinsip hidupnya. Komunitas baru ini tidak menutup diri dari lingkungannya, melainkan menjadi cahaya yang menerangi lingkungannya, ini dikarenakan mereka senantiasa menyeru kepada kebenaran dan mencegah dari pada kemungkaran. Komunitas ini diberi nama oleh Allah swt dengan sebutan rabbani.
  2. Tahapan konstiusi dan Negara, masyarakat rabbani tidak akan lestari jika berada dalam kepemimpinan jahiliah. Masyarakat rabbani memiliki aturan (konstitusi) kehidupannya sendiri yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan konstitusi jahiliah. Masyarakat Rabbani dalam pengertian tafsir At-Thabari adalah manusia-manusia yang memahami Islam dan menguasai ilmu agama yang dengannya ia memiliki perhatian terhadap urusan kemanusiaan (sense of politik), dan memasukkan Islam kedalam ruh manajemen Negara yang selalu menjalankan urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan bagi mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka apalagi kehidupan beragama. Sehingga masyarakat rabbani membutuhkan Negara yang rabbani.
  3. Tahapan benturan peradaban, menjadi keniscayaan bahwa pertarungan Al-Haq dan Al-Batil akan terus terjadi sebagai sebuah pertarungan yang abadi selama dunia ini ada. Kemunculan generasi robbani dalam bentuk konstitusi dan negaranya merupakan ancaman bagi para pengusung kejahiliaan. Karena kehadiran generasi robbani di pentas kehidupan bukanlah hanya bermanfaat bagi komunitas manusia muslim saja, akan tetapi untuk seluruh dunia. Islam pada akhirnya harus memakmurkan bumi. Penakhlukkan-penakhlukkan menjadi budaya bagi dakwah islam, penakhlukkan bukan berarti pembunuhan, penjarahan, penindasan, ataupun keburukan sejenisnya, akan tetapi penakhlukkan dalam islam berkonotasi kepada pembebasan ummat manusia dari belenggu kejahiliaan dan memperluas wilayah untuk melakukan kebaikan.

Demikian lah bahwa seluruh peristiwa yang menyejarah dalam peradaban Islam adalah merupakan etalase kebangkitan islam yang seharusnya tidak hanya penjadi tontonan yang melahirkan kebanggaan lalu berhenti kepada kepuasan utopia semata. Melainkan harus bertransformasi kedalam realitas perjuangan yang tak mengenal batas akhir. Rindu kiranya hati ini kepada sosok bersahaja penuh kualitas seperti Khalifah Umar bin khattab yang melakukan ronda tengah malam hanya untuk menyaksikan keadaan masyarakatnya yang dia khawatirkan berada dalam kesulitan, sosok Khalifah abu bakar assiddiq mengenai penerapan hukum-hukum islam, sosok khalifah umar bin abdul aziz dalam meningkatkan kesejahteraan kaum muslimin yang sebelum kepemimpinannya kaum muslimin banyak menjadi pengemis lalu dalam tahun pertama kepemimpinannya orang yang tadinya peminta-minta menjadi pemberi-pemberi sedekah, bahkah seluruh budak dimerdekakan. Allahuakhbar! Menulis semua manusia-manusia unik itu tidak akan cukup dengan lembaran catatan ini. Mereka para generasi awal (salafusshaleh) merupakan contoh hidup yang telah mewarnai etalase kebangkitan Islam. Ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kaum muslimin hari ini benar-benar behutang! Yah sebuah tanggung jawab sejarah yang harus dibayar, yaitu melanjutkan risalah kenabian. Melakukan pembebasan-pembebasan mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, Negara, peradaban, hingga akhirnya Islam menjadi ustadziyatun lil’alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam). Tidak hanya manusia yang akan merasakan kehadirannya, akan tetapi seluruh alam semesta. Wallahu ‘alam bisshowab.


Oleh:

Andi Yakub Abdullah

16 Desember 2010

Menyikapi perbedaan Gerakan Dakwah

Suatu saat DR. Aidh Al Qarni dalam sebuah tauji singkat disebuah hotel di Jakarta saat mengadakan kunjungan ke Indonesia beliau mengatakan “saya pernah berkunjung ke Eropa, saya melihat kehidupan sosial mereka disana ternyata mereka sangat berpecah belah, namun kemudian dalam hal memerangi Islam mereka bersatu padu.”

Saudraku tahukah kalian sesungguhnya salah satu akibat terbesar dari keruntuhan peradaban Islam itu sendiri adalah perpecahan dikalangan ummatnya, saling su’uzhon, salaing menyiku, saling merasa diri yang paling pantas, dan akhirnya perjuangan untuk merekonstruksi peradaban islam itu tampak seperti buih dilautan, dalam waktu-waktu tertentu ia terlihat banyak, dan dalam sekejap pula ia menghilang, sungguh pemandangan yang miris untuk disimpan dihati.

Pernahkah kita berfikir bahwa kita dapat bekerja sama dalam beberapa hal yang kita sepakati dan saling toleransi dengan perbedaan yang ada diantara kita??? Selama perbedaan tersebut tidak mengeluarkan kita dari Islam.

Karena sesungguhnya kita akan lebih kuat berjalan bersama dibandingkan dengan mengikuti prinsip perpecahan yang merupakan bid’ah yang terbesar yang jelas keburukannya dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, bahkan itu merupakan sesuatu yang di haramkan.

Saudaraku...koordinasi diantara wajihah-wajihah da’wah dirasakan perlu untuk membangun sebuah tatanan yang madani sebagai cita-cita besar lahirnya gerakan da’wah. Mari kita berkaca pada sejarah, bahwa Rasullullah sewaktu membangun pondasi awal daulah islam di madinah (yatsrib), hal yang pertama kali beliau lakukan untuk melangkah lebih jauh adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, karena Rasullullah dan para sahabat menyadari bahwa sesungguhnya mustahil kita membangun sebuah peradaban tanpa adanya ukhuwah diantara masyarakat islam.

Saudaraku...inilah yang disinggung oleh seorang Imam Syahid Hasan Al-Bana pada saat ia mengatakan bahwa negeri islam adalah setiap tanah yang diatasnya terdapat manusia yang mengatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan Allah. Oleh karenanya ketika mereka terzholimi maka kita wajib membelanya sesuai dengan kemampuan kita. Sehingga definisi ukhuwah islamiyah yang sesungguhnya itu sangat luas, tidak terbatas pada sebuah wilayah atau teritorial, tidak terbatas pada sebuah suku, warna kulit, apalagi kelompok (organisasi).

Saudaraku organisasi merupakan alat dan sarana kita dalam berda’wah, sehingga setiap alat dan sarana da’wah itu pastilah berbeda antara satu dan lainnya, perbedaan itu lahir untuk saling dikoordinasikan bukan untuk membuat perpecahan, karena dalam hati nurani kita mengakui bahwa pada setiap organisasi da’wah itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Saling melengkapi dan saling menyempurnakan merupakan bentuk ukhuwah islamiyah yang mulia.

Pendidikan terhadap ummat dengan ajaran islam yang benar merupakan batu pondasi, pembentukan kaidah-kaidah dasar bangunan masyarakat dunia. Jangan lupa bahwa kekuatan ummat islam ada pada persatuan dan kesatuannya. Kelemahannya adalah pada berceraiberainya mereka, dan alangkah senangnya musuh Islam jika kita terus-menerus bercerai berai.

Wahai saudaraku... eratkanlah ukhuwah diantara kita semua, kuatkanlah hubungan kita dengan saudara-saudara kita lainnya. Jangan saling menjatuhkan. Ketahuilah dengan sungguh-sungguh bahwa Allah bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan segala amal dan kerja kalian.

Oleh Andi Yakub Abdullah (2008)

09 Desember 2010

Amal Jama'i Budaya Kemenangan

AMAL JAMA'I BUDAYA KEMENANGAN

“Baik dalam Risalah Kenabian, Imperium Dunia, sampai kepada Perilaku Unik Prajurit-Prajurit Lebah.”

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS.At-Taubah [9]: 105)

Kata bekerja di dalam Al-Qur’an mengantarkan alur pikir kita pada sebuah kebenaran bahwa Islam bukanlah sekedar sebuah konsepsi akan tetapi aplikatif, bukan sekedar idealitas yang berujung pada utopia seperti teori tentang Atlantis akan tetapi harus merealitas di alam nyata sebagai mana sejarah telah mencatat bagaimana bumi telah dimakmurkan oleh Kerja-Kerja generasi Robbani (Khilafah Islamiah) yang telah mengislamisasi 1/3 belahan bumi meliputi Asia, Eropa, dan Afrika selama 14 abad lamanya. Mereka menyemai Islam bukan dengan bekerja serampangan, akan tetapi sebuah pekerjaan yang mempertemukan antara manajemen manusia dengan petunjuk Tuhan! Seperti kalimat yang diungkapkan oleh Anis Matta bahwa mereka adalah “akal-akal raksasa yang tercerahkan oleh wahyu.”

Dalam terminologi “bekerja,” kita mengenal Istilah amal Jama’i/team work, yang secara sederhana berati sekelompok orang terdiri atas ketua dan anggota yang bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Amal jama’i tidak hanya berdefinisi sebagai sebuah kelompok kecil, akan tetapi bisa juga diartikan dalam kelompok yang lebih besar seperti pengelolaan daerah, pulau, negara, bahkan dunia.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS. As-Shaff [61]: 4)

Dalam lingkup gerakan mahasiswa baik kiri ataupun kanan, memerlukan segala potensi SDM dengan beragam potensi, bakat, dan kecenderungan. Kesemuanya itu harus diaduk dengan baik dalam wadah amal jama’i, pas

takarannya dan sesuai dengan tuntunan resep, agar menghasilkan kue gerakan yang lezat. Oleh karena itu kemampuan membangun, merangkum, dan menyalurkan potensi secara tepat sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas amal jama’i sebuah gerakan.

Dalam konteks gerakan dakwah, kita mengenal istilah “terorganisir” yah sebagaimana khulafaurrasyidin ke empat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa “kebatilan yang terorganisir mampu mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir,” dalam organisasi gerakan dakwah “terorganisir” adalah kata kunci sukses sebuah amal’jama’i sebagai mana firman Allah:

Allah swt mengumpamakan dakwah yang dicintainya adalah dakwah yang di emban secara terorganisir dalam “barisan yang teratur” sabagaimana kekokohan suatu bangunan akibat dari keteraturan elemen-elemen yang menyusunnya.

Allah swt tidak meridhoi dakwah yang tidak teratur, sebagaimana Allah mengutuk Bani Israil, dalam sejarah Nabi Musa As saat membimbing bani israil. Allah mengutuk bani israil karena tidak melakukan amal jama’i, coba perhatikan firman Allah swt berikut:

Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: "Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah Perkasa, Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya". Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja". Berkata Musa: "Ya Tuhanku, Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". Allah berfirman: "(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Maidah [5]: 21-26)


Dikisahkan ketika Nabi Musa berjalan bersama kaumnya menuju Baitul Maqdis (palestina). Mereka diperintahkan untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada didalamnya serta berusaha menguasai tempat itu. Tapi mereka malah takut karena di Baitul Maqdis ada kaum Amalek yang posturnya besar-besar. Padahal mereka ada dibawah pimpinan Musa yang perkasa, yang telah diberikan Allah banyak Mukjizat.

Sebenarnya kalau mereka masuk, mereka pasti menang, karena negeri itu telah dijanjikan bagi mereka. Tapi yang sadar Cuma dua orang. Selebihnya malah menyakiti hati nabi dengan mengatakan, “Pergilah kamu berperang dengan Tuhanmu, kami menunggu saja”. Atau bahasa lainnya, “Ntar kalo udah menang, kabar-kabari ya…. Hmmm Busyeet. Karena kekafiran mereka ini, Allah menyesatkan mereka selama 40 tahun berputar-putar di Padang Thif.

Berbicara mengenai amal jama’i dalam konteks yang lebih luas terkait sejarah pergiliran kemenagan dan kekalahan Imperium besar yang pernah mewarnai dunia di zamannya. Amal jama’i adalah sebuah alat/sarana, didalam alat/sarana tersebut terdapat substansi yang diperjuangkan bernama Ideologi, ideologi inilah yang akan mewarnai konsep manajemen yang diterapkan dalam amal jama’i tersebut. Imperium Romawi dan Persia adalah salah satu kemasan monarki yang telah banyak melakukan penahlukan-penahlukan dengan menggunakan amal jamai. Tata struktur pemerintahan yang terdiri atas raja (sebagai pemimpin tertinggi), senat (sebagai penasihat raja), dan rakyat (sebagai obejek manajemen) adalah bentuk kesungguhan mereka dalam beramal jama’i. sehingga sejarah pun telah mencatat kisah-kisah heroik mereka saat menahlukkan seluruh benua Eropa oleh Kaisar Romawi dan benua Asia oleh Kisra Persia.


Kisah-kisah penahlukan selalu diwarnai dengan benturan Ideologi yang saling ingin menguasi dengan bermacam kepentingan sesuai prinsip hidup masing-masing imperium. Kekalahan Romawi dan Persia dalam rentang waktu yang berdekatan oleh sang adidaya baru (Islam) adalah bentuk benturan ideologi yang berakhir pada kemenangan salah satu dari mereka (islam, Romawi, dan Persia) yang akhirnya demenangkan oleh Islam. Secara karakter manajemen, baik Imperium Romawi, Persia, & Islam masing-masing menerapkan amal jama’i dalam kerja-kerja penahlukan mereka. Namun yang membedakannya adalah substansi yang menjadi ideologi mereka yang berbeda. Romawi dengan ideologi blasteran yunani dan nasraninya yang dikemas dalam bentuk monarki, Persia dengan ideologi majusinya yang juga dalam kemasan monarki, sedangkan Islam dengan ideologi Tauhid dengan kemasan khilafah (kepemimpinan ummat). Islam berhasil menahlukkan Romawi dan Persia karena Islam mempertemukan amal jama’i dengan petunjuk Allah swt _menyatukan antra Agama dan pengelolaan Negara, sedangkan Romawi meletakkan amal jama’i dengan mendikotomikan antara Agama dan Negara, terlebih parah lagi adalah Persia menggabungkan amal jama’i dengan petunjuk Syaithan_penyembahan berhala (Api).

Sebenarnya amal jama’i tidak hanya dilakukan oleh manusia, akan tetapi pada kehidupan binatang, Allah swt dengan kekuasaan-Nya memberikan Ilham kepada mahluk yang dikehendaki-Nya untuk melakukan kerja dengan keteraturan amal jama’i.


Coba perhatikan perilaku lebah, bagaimana mereka membangun istananya diatas pohon, dengan struktur pengorganisasian dengan hierarki Ratu, prejurit/pekerja (lebah pencari makanan, pembuat madu, pembangun sarang, dan penjaga sarang). Mereka sangat terorganisir sehingga dalam masa hidup mereka yang hanya ± 6 bulan, mereka bisa menghasilkan Madu tidak hanya bermanfaat bagi Negara lebah, akan tetapi bermanfaat besar bagi mahluk hidup lainnya terlebih manusia. Tidak hanya itu budaya amal jama’i yang diterapkan lebah adalah Al Qiyadah wal Jundiyah. Sang ratu memberikan perintahnya dengan bijak dan seksama. Kemudian beribu ekor lebah berpencar menyelesaikan tugasnya masing-masing tanpa banyak pertanyaan dan pertengkaran siapa yang harus mengerjakan ini dan itu, seakan-akan seperti dikendalikan dengan remote control mereka membagi tugas masing-masing. Melesat cepat dan bergegas sebelum hari mulai sore. Ibarat prajurit yang sedang bertempur, mereka menyusun strategi dan persiapan. Subahanallah Allah berfirman dalam surat cintanya:

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl [16]: 68-69)

Demikianlah bahwah amal jama’i merupakan budaya kemenangan. Siapapun yang menerapkannya, maka akan mencapai kesuksesan yang sempurna sesuai dengan tunjuan amalnya. Baik dalam Risalah Kenabian, Imperium dunia, sampai kepada perilaku unik prajurit-prajurit lebah.

Aktivis dakwah harusnya menyadari hal ini. Melakukannya dalam tiap kerja-kerja dakwahnya sehingga keberkahan Allah selalu menyertai cita-cita luhur tentang CINTA pada-Nya. Cinta Khalid ibd Walid saat menahlukkan Romawi dan Persia, Cinta Salahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Al-Quds, Cinta Muhammad Al-Fatih saat membebaskan Konstantinopel, dan kini giliran kita apa bukti Cinta kita? Dengan amal jama’i apa yang telah kita tahlukkan? Bangkit saudaraku! Dengan amal jama’i kita giring diri dan ummat ini menuju Dunia BARU! Dimana Islam menjadi rahmat bagi semesta Alam… wallahu a’lam bisshowab.


Oleh:

Andi Yakub Abdullah

Dalam Publikasi Humas KAMMDA Makassar [www.kammi-makassar.blogspot.com]

08 November 2010

HARAPAN SELALU DI SANA, KENYATAAN SELALU DISINI (Untuk mahasiswa Rantau)


Orang-orang yang hidup dengan perasaannya maka ia akan sering merasakan tekanan-tekanan batin
Orang-orang yang hidup dengan akalnya maka ia akan mendefinisikan kehidupan ini seperti permainan
Orang-orang yang hidup dengan keseimbangan akal dan perasaannya, maka menanggapi kehidupan ini sebagai panggung sandiwara, ia akan tentram dan terus bersinar karena ia yakin bahwa segala yang terjadi adalah sandiwara langit.

Ketika anda berada dalam keadaan underpressure saat menghadapi ujian kehidupan, terkadang terjadi “gap” antara harapan akan kehidupan yang bahagia dengan kemampuan yang pas-pasan. Pada kondisi ini kerap kali psikologis kita mengalami tekanan yang hebat. Tekanan ini semakin lama semakin tidak bersahabat dan akhirnya seperti bendungan pecah yang mengeluarkan air bah yang menyeret habis segala yang dilauinya.

Air bah bendungan itu dapat kita manifastasikan sebagai kelakuan menghalalkan segala cara yang kita lakukan sebagai jawaban atas ketidak mampuan kita untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang diberikan. Bahasa kerennya “jawaban atas ketiadaan jawaban.” Adalah hal yang cukup rumit untuk menjelaskan bagai mana proses kimiawi tubuh bereaksi atas keterpaksaannya dalam melakukan hal yang salah demi sebuah tujuan yang mulia. Ingatlah bahwa Allah SWT hanya menerima amalan hamba yang dilakukan ikhlas karena-Nya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagai mana kita menghadapi semua tantangan hidup? Bagaimana kita memosisikan diri pada saat masalah mengelilingi kita? Dengan siapa kita meminta pertolongan? Dan bagai mana kita menjawab teka-teki kehidupan yang beruntun menyapa kita?

Ada saat-saat dalam hidup kita dimana fikiran mengalami pembajakan, dalam bahasa kecerdasan emosional (emosional Intelegens/EQ) disebut sebagai “Pembajakan Emosi” jika mengingat kembali pelajaran Anatomi khusunnya masalah otak, maka ada yang disebut dengan jejaring saraf. Manusia memiliki triliunan serabut saraf, dalam pelajaran tentang saraf kita mengetahui bahwa ada mekanisme dimana manusia bereaksi terhadap aksi yang diterimanya. Proses secara sederhana seperti Informasi-reseptor-proses otak-respon. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebelum manusia merespon kejadian yang dia alami, maka terlebih dahulu informasi di produksi di otak untuk kemudian dikeluarkan atau di respon.
Ketika ada masalah berat dalam kehidupan sebagai informasi yang masuk, maka ada dua mekanisme yang kerap di lakukan manusia - (1) Copying positif, (2) Copying negative.

Saya mengajak anda untuk melihat dimana letak pembajakan Emosi itu terjadi..
  1. Informasi: Adalah segala hal yang diterima oleh reseptor saraf kita di seluruh panca indra
  2. Reseptor: Adalah ujung-ujung saraf yang terletak di barisan terdepan panca indra manusia. Semua manusia normal juga sama pada stage ini
  3. proses otak: Adalah bagian Cerebrum(otak besar) dan Cerebelum(otak kecil) dan seluruh komponen-komponen terkait yang mengelola seluruh informasi yang diterima untuk menghasilkan respon. Pada stage ini semua manusia tidak sama merespon hal-hal yang bersifat emosi ataupun perasaan. Ada yang mudah bergejolak, ada yang lembut, dan ada pula yang afek tumpul bahkan datar hingga coma. Tergantung kondisi kejiwaan masing-masing. Nah pada titik inilah manusia sering terbajak emosinya.
  4. Respon: Adalah sikap yang muncul setelah informasi diproses di otak. Jika copying positif, maka sesungguhnya kita berhasil mengelola informasi yang buruk atau berat itu dengan respon yang tepat yaitu sabar dan tawakkal serta tenang dalam menentukan solusinya. Jika copying negative, maka sesungguhnya emosi kita mengalami pembajakan, apa lagi kalau bukan hawa nafsu yang dikendalikan oleh syaitan yang terkutuk, sehingga informasi yang berat itu kita respon dengan sikap yang penuh dengan keputus asaan serta gejolak emosi yang tidak terkendali.
Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman yang artinya:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.94:5-6)

Jadi jika anda adalah mahluk yang mengakui keberadaan Allah SWT dalam perjalanan panjang kehidupan ini, maka hendaknya lah kepercayaan anda mengantarkan anda kepada ketaatan pada-Nya…
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ya Rasul berikan aku satu kalimat yang dengan kalimat itu aku dapat memahami islam, Rasul bersabda “beriman dan istiqomah”

Yah Percaya dan tetap dalam kepercayaan selama-lamanya hingga raga berpisah dengan nyawa…, dan konsekuensi dari sebuah kepercayaan adalah ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya. Barang siapa yang sanggup melakukan hal yang demikian maka Allah akan memberi dan terus memberi apa-apa yang dibutuhkan oleh hamba itu…
Allah SWT berfirman yang artinya:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(QS.Al-Fath:4)

Saudaraku coba bayangkan, Jika ada orang kaya pergi makan di warung kaki lima itu karena pilihan. Akan tetapi jika kita orang miskin dan makan di warung kaki lima yang sama, itu bukan pilihan akan tetapi itu adalah keadaan kita yang memang demikian adanya. Begitu pula jika jika kita (pelajar perantau) yang betah berlama-lama di Makassar itu karena pilihan. Akan tetapi jika warga Makassar yang betah berlama-lama di Makassar, itu bukan pilihan akan tetapi itu adalah keadaan mereka yang memang demikian adanya.
Sehingga dimanapun, apapun, dan siapapun, kita selalu berada antara pilihan dan keadaan kita yang sesungguhnya. Seorang penulis terkenal kang prie pernah berkata harapan selalu disana, kenyataan selalu disini. Yah harapan selalu pingin di Kampung halaman (daerah asal)/ tempat yang dekat dengan keluarga dsb, akan tetapi kenyataan kita saat ini adalah mahasiswa, yang dalam proses belajar, sehingga jauh dari kehidupan yang normal karena sekali lagi kita adalah mahasiswa. Sehingga satu kata SABAR sudah cukup menjawab semua pertanyaan tentang mengapa kita disini dan harapan selalu disana…
Berikanlah kabar gembira kepada mereka yang tunduk patuh kepada Allah:

Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka(Al-Haj:35)

Dan ketahuilah bahwa orang-orang yang mampu bersabar adalah manusia-manusia pilihan, semoga kita termasuk didalamnya:
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.(QS.Fushshilat:35)

Kalau di Makassar ada coto Makassar, di Kampung halaman Ortu ada makanan khas keluarga. Jika di fikir sekilas keduanya jauh berbeda, akan tetapi setelah ku rasakan ternyata ada kesamaan, yaitu dua-duanya enak dimakan… hee..he…
Saudara ku ada saat dimana kondisi berat terasa ringan yaitu ketika kita menanggapi masalah-masalah berat dengan perasaan yang sederhana, sebagai mana Orientalis barat pernah berkata tentang Muhammad SAW yang saya kutip sebagai berikut “dia(Muhammad) adalah seorang pemimpin yang sangat luar biasa, dia mampu memecahkan persoalan-persoalan berat sembari meminum secangkir kopi hangat”. Initinya tetaplah tenang dalam mengahdapi gejolak hidup. So keep smile in every day because Allah…. Wallahua’lam bishowab.

By Andi Yakub (Refleksi belajar dalam rantauan)