08 November 2010

HARAPAN SELALU DI SANA, KENYATAAN SELALU DISINI (Untuk mahasiswa Rantau)


Orang-orang yang hidup dengan perasaannya maka ia akan sering merasakan tekanan-tekanan batin
Orang-orang yang hidup dengan akalnya maka ia akan mendefinisikan kehidupan ini seperti permainan
Orang-orang yang hidup dengan keseimbangan akal dan perasaannya, maka menanggapi kehidupan ini sebagai panggung sandiwara, ia akan tentram dan terus bersinar karena ia yakin bahwa segala yang terjadi adalah sandiwara langit.

Ketika anda berada dalam keadaan underpressure saat menghadapi ujian kehidupan, terkadang terjadi “gap” antara harapan akan kehidupan yang bahagia dengan kemampuan yang pas-pasan. Pada kondisi ini kerap kali psikologis kita mengalami tekanan yang hebat. Tekanan ini semakin lama semakin tidak bersahabat dan akhirnya seperti bendungan pecah yang mengeluarkan air bah yang menyeret habis segala yang dilauinya.

Air bah bendungan itu dapat kita manifastasikan sebagai kelakuan menghalalkan segala cara yang kita lakukan sebagai jawaban atas ketidak mampuan kita untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang diberikan. Bahasa kerennya “jawaban atas ketiadaan jawaban.” Adalah hal yang cukup rumit untuk menjelaskan bagai mana proses kimiawi tubuh bereaksi atas keterpaksaannya dalam melakukan hal yang salah demi sebuah tujuan yang mulia. Ingatlah bahwa Allah SWT hanya menerima amalan hamba yang dilakukan ikhlas karena-Nya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagai mana kita menghadapi semua tantangan hidup? Bagaimana kita memosisikan diri pada saat masalah mengelilingi kita? Dengan siapa kita meminta pertolongan? Dan bagai mana kita menjawab teka-teki kehidupan yang beruntun menyapa kita?

Ada saat-saat dalam hidup kita dimana fikiran mengalami pembajakan, dalam bahasa kecerdasan emosional (emosional Intelegens/EQ) disebut sebagai “Pembajakan Emosi” jika mengingat kembali pelajaran Anatomi khusunnya masalah otak, maka ada yang disebut dengan jejaring saraf. Manusia memiliki triliunan serabut saraf, dalam pelajaran tentang saraf kita mengetahui bahwa ada mekanisme dimana manusia bereaksi terhadap aksi yang diterimanya. Proses secara sederhana seperti Informasi-reseptor-proses otak-respon. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebelum manusia merespon kejadian yang dia alami, maka terlebih dahulu informasi di produksi di otak untuk kemudian dikeluarkan atau di respon.
Ketika ada masalah berat dalam kehidupan sebagai informasi yang masuk, maka ada dua mekanisme yang kerap di lakukan manusia - (1) Copying positif, (2) Copying negative.

Saya mengajak anda untuk melihat dimana letak pembajakan Emosi itu terjadi..
  1. Informasi: Adalah segala hal yang diterima oleh reseptor saraf kita di seluruh panca indra
  2. Reseptor: Adalah ujung-ujung saraf yang terletak di barisan terdepan panca indra manusia. Semua manusia normal juga sama pada stage ini
  3. proses otak: Adalah bagian Cerebrum(otak besar) dan Cerebelum(otak kecil) dan seluruh komponen-komponen terkait yang mengelola seluruh informasi yang diterima untuk menghasilkan respon. Pada stage ini semua manusia tidak sama merespon hal-hal yang bersifat emosi ataupun perasaan. Ada yang mudah bergejolak, ada yang lembut, dan ada pula yang afek tumpul bahkan datar hingga coma. Tergantung kondisi kejiwaan masing-masing. Nah pada titik inilah manusia sering terbajak emosinya.
  4. Respon: Adalah sikap yang muncul setelah informasi diproses di otak. Jika copying positif, maka sesungguhnya kita berhasil mengelola informasi yang buruk atau berat itu dengan respon yang tepat yaitu sabar dan tawakkal serta tenang dalam menentukan solusinya. Jika copying negative, maka sesungguhnya emosi kita mengalami pembajakan, apa lagi kalau bukan hawa nafsu yang dikendalikan oleh syaitan yang terkutuk, sehingga informasi yang berat itu kita respon dengan sikap yang penuh dengan keputus asaan serta gejolak emosi yang tidak terkendali.
Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman yang artinya:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.94:5-6)

Jadi jika anda adalah mahluk yang mengakui keberadaan Allah SWT dalam perjalanan panjang kehidupan ini, maka hendaknya lah kepercayaan anda mengantarkan anda kepada ketaatan pada-Nya…
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ya Rasul berikan aku satu kalimat yang dengan kalimat itu aku dapat memahami islam, Rasul bersabda “beriman dan istiqomah”

Yah Percaya dan tetap dalam kepercayaan selama-lamanya hingga raga berpisah dengan nyawa…, dan konsekuensi dari sebuah kepercayaan adalah ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya. Barang siapa yang sanggup melakukan hal yang demikian maka Allah akan memberi dan terus memberi apa-apa yang dibutuhkan oleh hamba itu…
Allah SWT berfirman yang artinya:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(QS.Al-Fath:4)

Saudaraku coba bayangkan, Jika ada orang kaya pergi makan di warung kaki lima itu karena pilihan. Akan tetapi jika kita orang miskin dan makan di warung kaki lima yang sama, itu bukan pilihan akan tetapi itu adalah keadaan kita yang memang demikian adanya. Begitu pula jika jika kita (pelajar perantau) yang betah berlama-lama di Makassar itu karena pilihan. Akan tetapi jika warga Makassar yang betah berlama-lama di Makassar, itu bukan pilihan akan tetapi itu adalah keadaan mereka yang memang demikian adanya.
Sehingga dimanapun, apapun, dan siapapun, kita selalu berada antara pilihan dan keadaan kita yang sesungguhnya. Seorang penulis terkenal kang prie pernah berkata harapan selalu disana, kenyataan selalu disini. Yah harapan selalu pingin di Kampung halaman (daerah asal)/ tempat yang dekat dengan keluarga dsb, akan tetapi kenyataan kita saat ini adalah mahasiswa, yang dalam proses belajar, sehingga jauh dari kehidupan yang normal karena sekali lagi kita adalah mahasiswa. Sehingga satu kata SABAR sudah cukup menjawab semua pertanyaan tentang mengapa kita disini dan harapan selalu disana…
Berikanlah kabar gembira kepada mereka yang tunduk patuh kepada Allah:

Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka(Al-Haj:35)

Dan ketahuilah bahwa orang-orang yang mampu bersabar adalah manusia-manusia pilihan, semoga kita termasuk didalamnya:
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.(QS.Fushshilat:35)

Kalau di Makassar ada coto Makassar, di Kampung halaman Ortu ada makanan khas keluarga. Jika di fikir sekilas keduanya jauh berbeda, akan tetapi setelah ku rasakan ternyata ada kesamaan, yaitu dua-duanya enak dimakan… hee..he…
Saudara ku ada saat dimana kondisi berat terasa ringan yaitu ketika kita menanggapi masalah-masalah berat dengan perasaan yang sederhana, sebagai mana Orientalis barat pernah berkata tentang Muhammad SAW yang saya kutip sebagai berikut “dia(Muhammad) adalah seorang pemimpin yang sangat luar biasa, dia mampu memecahkan persoalan-persoalan berat sembari meminum secangkir kopi hangat”. Initinya tetaplah tenang dalam mengahdapi gejolak hidup. So keep smile in every day because Allah…. Wallahua’lam bishowab.

By Andi Yakub (Refleksi belajar dalam rantauan)

1 komentar:

  1. wahhh... sy bangett,, nihh..setali tiga uang degh,, klo perlu dibanyak2in.. mnurut z yg selalu mw enaknya ktka kuliah dia belum spnuhnya mahasiswa,,mending perdalam di rantau dan sekali pulang tuk terapkan ap yang didapat kan kalau lama bnyak yg mw diterapkn,, sprt kata pepatah lama hidup byk dirasa lm berjalan bnyak dilihat...sekian hehehe,,,

    BalasHapus

jangan mati kecuali dalam keadaan beriman
jangan keluar sebelum menulis komentar, he..he..